Saya pernah berinteraksi dan bekerja dengan orang Jerman. Mereka punya bisnis furniture jadi sesekali akan ngecek barang untuk diekspor ke eropa. Saya suka nge-scan dan mengobservasi orang lain sehingga muncul beberapa hal yang menurut saya typical orang Jerman banget. Sebagai orang yang berpikiran terbuka, hal paling baik yang harus kita lakukan hanyalah memahami perbedaan tersebut, lalu mengharagai. Ambil sisi positifnya saja.

1. Menunggu sebelum mulai makan
Saat makan, orang Jerman akan menunggu sampai semua orang duduk dan semua hidangan siap untuk disantap bersama-sama. Atau menunggu hingga tuan rumah mengatakan "Guten Appetit!" (selamat menikmati) sebelum semua orang mulai menyantap makanan. Bos saya sangat marah saat makan di beberapa restoran Indonesia. Alasannya adalah hidangan disajikan satu per satu. 
Kebiasaan di Indonesia, pesanan pasti disajikan satu per satu. Hidangan mana yang duluan selesai, pasti hidangan itu yang diantarkan terlebih dahulu ke meja atau minuman duluan yang diantarkan ke meja. Bos saya marah karena tidak bisa mulai makan bersama-sama. Jika hidangan tidak disajikan bersamaan maka sembari menunggu hidangan yang lain datang, hidangan yang sudah di atas meja akan dingin dan kurang nikmat. Hal tersebut sangat bertentangan dengan etika makan orang Jerman.

2. Istilah "gumzeit"
Bos saya punya sebuah buku travel guide tentang Indonesia. Buku ini menuliskan salah satu sifat orang Indonesia dengan istilah gumzeit yang artinya jam karet. Di Jerman, semua orang serba menghargai waktu, dan serba tepat waktu. Beda dengan orang Indonesia yang janjiannya jam 8, datangnya bisa jam 9, 10 atau bahkan jam 11. Apakah ini berarti nggak ada dan nggak boleh telat sama sekali? Tentu saja kadang ada keterlambatan, tapi kalau terlambat dari jam yang ditentukan, seseorang biasanya akan memberi tahu dengan cara menelepon atau sms atau bahkan di hari sebelumnya, agar orang yang lain tidak membuang-buang waktu mereka untuk menunggu.

3. Istilah "probezeit"
Probezeit maksudnya masa uji coba. Bos saya cerita kalo misalkan bekerja di Jerman, jangan senang dulu jika kamu diterima kerja di suatu perusahaan. Biasanya selama 6 bulan sampai 1 tahun itu adalah masa uji coba. Misalnya, pada bulan ke-6 bisa saja saat menerima gaji kamu juga akan menerima surat pemecatan. Tanpa sepengetahuan pegawainya, perusahaan-perusahaan di Jerman akan selalu mengobservasi kinerja para pegawainya selama masa uji coba itu, apakah mereka bisa diandalkan atau tidak untuk tetap bekerja di perusahaannya. Makanya selama probezeit usahakan untuk nggak sakit, selalu taat aturan, dan selalu tunjukkan kerja kerasmu.

4. Dingin dan kaku
Menurut saya saat pertama kali  berinteraksi dengan orang Jerman, mereka akan cenderung kaku atau dingin dan tidak akan SKSD (sok kenal sok dekat) dengan orang yang baru dikenal. Jadi jika baru berkenalan dengan orang Jerman dan mereka jarang tersenyum maka jangan langsung berpikir bahwa mereka membenci kamu. Mereka butuh waktu untuk mengenal kamu lebih dekat sebelum memutuskan untuk berteman denganmu atau tidak. Orang Jerman terbiasa dengan kejujuran sehingga akan merasa aneh dengan orang yang SKSD, secara logika orang yang baru bertemu pasti belum bisa berteman dekat dan jika ada orang yang SKSD dengan mereka maka mereka akan berpikir bahwa itu hanya pura-pura/bukan perasaan yang sebenarnya. Sedangkan jika orang Jerman menganggap kamu dapat diandalkan dan dapat dipercaya maka mereka akan bersikap sangat baik. Saya lebih suka sifat seperti ini karena menandakan bahwa orang itu tulus.

Sebaliknya di Indonesia orang-orangnya cukup ramah, membuat banyak kontak fisik, bercanda seolah-olah sudah berteman lama. Bahkan tersenyum kepada seseorang walaupun mereka membencinya. Tingkah laku ini meninggalkan keraguan bagi orang Jerman, apakah mereka bisa diajak serius jika dibutuhkan. Pikiran lainnya yaitu jika kalian memperlakukan orang asing sebagai teman, apa bedanya orang asing dan teman bagi kalian? Dan bagaimana kalian membedakan perlakuan terhadap teman dan sahabat? Orang Jerman memanggil seseorang sebagai teman jika mereka memiliki hubungan yang dalam. Jika hanya bertemu sesekali dan tidak pernah ngobrol secara mendalam maka orang Jerman hanya menganggapmu sebagai kenalan.

5. Sifatnya kasar
Kalo yang satu ini saya tidak setuju. Orang Jerman bukan kasar, tapi lebih kepada bersikap jujur. Mereka sangat menjunjung tinggi kejujuran sehingga cenderung terang-terangan, ceplas-ceplos, dan tidak suka berbelit-belit. Jika orang Jerman tidak suka kamu, maka kamu akan tahu. Mereka tidak akan sungkan untuk memperlihatkan kemarahan ke kamu jika kamu berbuat salah. Menurut saya sifat ini tidak dilakukan dengan maksud yang jelek lho. Jika ada orang yang berbuat salah maka lebih baik mengingatkan langsung ke orang tersebut. Sedangkan orang Indonesia lebih suka menggunjing aib seseorang kepada orang lain. Tidak perlu menggunjing kesalahan orang lain, karena yang berbuat salah belum tentu mengerti. Dialah yang harus diubah, bukan orang lain.

6. Efisien
Sebagai negara maju, di Jerman segalanya ada, namun orang Jerman sendiri bukan orang yang konsumtif. Apapun barang yang dibeli pasti akan dipikirkan efisiensinya. Mereka tidak akan ngoyo untuk membeli barang-barang yang mewah jika barang tersebut tidak banyak fungsinya. Saat beli barang, orang Jerman akan memikirkan manfaatnya, bukan untuk ajang pamer belaka. Bahkan saat beli bensin, bos saya bertanya ke saya mengenai apa bedanya pertamax dan pertalite. Lalu mereka mulai mempertimbangkan dari segi harga dan keawetan, worth it atau nggak kalo beli dengan harga segitu.

7. Tidak lucu
Meski punya sifat kaku dan dingin, orang Jerman tentu punya selera humor. Kalau kamu berpikir orang Jerman jarang tersenyum, bisa jadi kamu sendiri yang terlalu terbiasa dengan senyum palsu yang diberikan orang-orang. Orang Jerman akan sangat ramah dan tidak sungkan untuk melemparkan lelucon-lelucon receh jika dia merasa kamu adalah teman mereka. 

8. Dipusingkan dengan berbagai macam pajak
Hal kurang menyenangkan dari negara Jerman adalah warganya terbebani dengan berbagai macam pajak. Ini disebabkan karena Jerman harus membayar hutang yang sangat besar akibat kerugian yang disebabkannya selama perang dunia. Jika seseorang belum menikah atau single maka pajak penghasilannya mencapai 40% dari total penghasilan. Belum lagi pajak barang-barang elektronik seperti hp, tv, radio, dan lain-lain. Ada juga pajak iuran untuk gereja bagi yang beragama kristen atau katolik. Pajak hewan peliharaaan juga ada.

9. Sangat menghargai hak cipta
Bos saya pernah nanya "kamu kalo lagi waktu senggang suka ngapain?". Nah saya tunjukkan beberapa karya desain grafis dan fotografi milik saya. Dia pun tanya bikin desainnya pake software apa. Saya menjawab menggunakan software-software adobe. Dia heran kok saya sanggup beli software-software tersebut karena harganya sangat mahal. Langsung saya jawab kalo saya bisa mengunduh software gratisan full version alias software crack di website. Dia kaget soalnya hal itu sangat tidak mungkin dilakukan di Jerman. Ternyata, ada polisi internet lho di Jerman yang mengawasi kegiatan-kegiatan ilegal yang dilakukan oleh pengguna internet. Jika ketahuan melanggar maka pelaku akan dituntut untuk membayar denda yang sangat mahal. 

10. Sangat taat aturan
Bos saya merasa sangat pusing saat nyetir sendiri di Indonesia. Dia dibikin pusing karena orang Indonesia sangat tidak taat aturan lalu lintas. Misalnya seperti orang menyeberang seenaknya bukan di zebra cross atau di tempat penyebrangan, ngebut di jalanan kecil, dsb. Menurutnya, orang Indonesia sangat tidak peduli pada keselamatan orang lain. Di Jerman, jika seseorang ketahuan menyebrang jalan bukan di tempatnya, mereka bisa kena denda 75 euro (1juta) dan beresiko kehilangan SIM. Di beberapa tempat yang mempunyai batas kecepatan mengemudi, biasanya ada kamera Blitzer yang bisa memotret plat mobil dan merekam kecepatan pengemudi yang ngebut. Dendanya pun bukan main, sekitar 100 sampai 660 euro tergantung berapa kecepatan mengemudi saat melewati jalan tersebut. Denda yang harus dibayarkan tidak langsung ditempat, tapi dikirim ke rumah berupa surat tilang dan potret mobil yang terekam kamera.